Keuntungan dan Kendala Beternak Kambing

By Herlambang Bagus Budi Wibawa | At 9:35 AM | Label : | 0 Comments
Sebelum memutuskan untuk memilih satu jenis usaha, ada baiknya sobat mengenal dulu kelebihan atau kekurangan dari usaha tersebut. Dalam beternak kambing, ada beberapa hal yang harus dipahami dan menurut Pak HaBe informasi ini sangat-sangat dibutuhkan. Adapun kelebihan, keuntungan atau nilai tambah dari beternak kambing adalah sebagai berikut:
  1. Modal yang dibutuhkan lebih sedikit dibanding ternak hewan besar (sapi, kerbau, dan kuda). Oleh karenanya, lebih mudah dijangkau masyarakat bermodal kecil. 
  2. Pemeliharaannya mudah, sederhana, dan tidak membutuhkan tempat yang luas.
  3. Sebagai salah satu jenis usaha skala kecil, beternak kambing tidak perlu melibatkan tenaga kerja karena bisa dikerjakan sendiri atau sebagai pekerjaan sambilan.
  4. Perkembangannya sangat pesat, karena setiap kali melahirkan lebih dari satu ekor.
  5. Semua bagian kambing bisa dimanfaatkan, misalnya daging, susu, dan darah (untuk bahan pakan ternak), kulit dan kotoran (limbah kandang sebagai pupuk).
  6. Hasil ikutan dari proses pemotongan kambing bisa didayagunakan atau dimanfaatkan sebagai bahan industri yang bernilai ekonomi tinggi. Hasil ikutan tersebut berupa:
    > Tulang dan tanduk sebagai bahan pembuatan lem serta barang kerajinan.
    > Kulit untuk bahan baku industri sepatu, tas, dompet, jaket, dan produk lainnya.
    > Darah digunakan sebagai bahan campuran industri pakan ternak, meskipun masih mengundang kontroversi.
  7. Banyak masyarakat pedesaan yang memelihara kambing dengan tujuan sebagai tabungan yang sewaktu-waktu bisa dijual
  8. Hasil sampingan berupa kotoran, merupakan bahan pupuk organik yang kandungan zat haranya sangat tinggi dan baik untuk memulihkan kesuburan tanah.
  9. Selain sunah Rasul, akikah dan menyembelih hewan kurban, banyak acara adat yang berkembang di masyarakat menggunakan kambing sebagai pelengkap ritual.
  10. Daging kambing dimitoskan memiliki khasiat mampu meningkatkan daya tahan pria, sehingga kebutuhan daging kambing terus mengalami kenaikan. Kadar kolesterol daging kambing ternyata lebih rendah dibanding sapi. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di Oklahama, Amerika, terbukti bahwa kandungan lemak daging kambing lebih rendah 50-60 % dibanding daging sapi. Fakta ilmiah ini sekaligus mematahkan asumsi yang beredar di masyarakat yang menyebutkan bahwa daging kambing memiliki kandungan lemak paling tinggi dibanding jenis daging lainnya. Pemahaman yang beredar di masyarakat adalah daging kambing menjadi pemicu utama penyakit tekanan darah tinggi dan kolesterol. 
Keuntungan dan Kendala Beternak Kambing

Selain sepuluh hal yang merupakan kelebihan dari beternak kambing di atas, ada beberapa hal yang menjadi faktor penghambatnya. Faktor yang sering menjadi kendala dalam beternak kambing adalah sebagai berikut:
  1. Semakin sempitnya lahan pertanian berakibat lahan bagi para peternak kambing untuk mencari rumput maupun menggembalakan kambing piaraannya semakin berkurang. Para peternak kesulitan mencari pakan, jika hanya mengandalkan pakan alami (rumput dan hijauan).
  2. Kambing memiliki bau khas, yang dalam bahasa Jawa diistilahkan prengus. Bau tersebut sering menjadi kendala dalam beternak kambing. Ada sebagian kecil masyarakat yang tidak bisa kompromi dengan bau prengus. Untuk itu, para peternak seharusnya menyiapkan kandang khusus yang agak jauh dari pemukiman agar baunya tidak mengganggu.
Meskipun ada faktor penghambat yang sudah disebutkan di atas, bukan berarti kendala tersebut sama sekali tidak bisa dicari jalan keluarnya. Ada solusi guna menjawab permasalahan-permasalahan tersebut sehingga kita tetap bisa beternak kambing. Jika dibandingkan antara faktor penghambat dengan potensi serta kelebihan beternak kambing, masih jauh lebih besar faktor pendukungnya. Dengan demikian tidak ada alasan untuk menunda atau membatalkan beternak kambing. Paparan tentang kendala tersebut hanya sekadar mengingatkan para calon peternak agar sejak awal mengantisipasi masalah-masalah yang sering dihadapi para peternak.

Proses Pemijahan Ikan Koi

By Herlambang Bagus Budi Wibawa | At 12:45 PM | Label : | 0 Comments
Induk-induk koi yang telah terpilih tidak serta merta bisa langsung dikawinkan. Hal ini berkaitan dengan tingkat kematangan kelamin dari koi jantan dan betina. Jika kita memilih koi yang telah siap kawin, yang perlu disiapkan adalah tempat untuk kawin atau kolam pemijahan. Kolam pemijahan berupa kolam tembok berukuran 2x4x1 m dengan sirkulasi air yang baik. Kolam ini sebelum digunakan harus dicuci terlebih dahulu dengan cara dikeringkan dan direndam dengan larutan PK (kalium permanganate). Setelah itu, dipasang jaring (net) atau kantung happa dari bahan yang halus (kain triliri), kemudian kolam diisi dengan air. Selanjutnya, induk koi dimasukan.

Perbandingan koi jantan dan betina 1 : 1 atau 1 : 2 (perbandingan berat badan). Artinya, jika induk betina beratnya 2kg (biasanya 1 ekor), induk jantan memiliki berat minimum 2 kg (biasanya bisa 3-4 ekor). Induk koi dibiarkan dan tidak boleh diganggu. Setelah 1 - 2 jam, sarang atau kakaban untuk menempel telur dipasang. Kakaban biasanya terbuat dari ijuk yang dijepit bambu. Jumlah kakaban sebaiknya 1 : 5. Artinya, jika induk betina yang dikawinkan 1 kg, kakabannya 5 lembar. Satu lembar kakaban berukuran 0,5 x 1 m.
Setelah kakaban, induk koi, dan sirkulasi air disiapkan dengan baik, koi dibiarkan kawin sepanjang malam. Menjelang pagi akan terlihat telur-telur menempel di kakaban.

1. Menetaskan Telur dan Menangani Telur yang Baru Menetas
Telur yang terdapat pada kakaban harus terendam air terus. Karena itu, kakaban dapat diberi pemberat. Suhu kolam penetasan pun harus selalu hangat. Jika suhu air di dalam kolam terlalu dingin, penetasan akan berlangsung lebih lama. Sebaliknya, jika suhu terlalu panas, telur-telur tersebut akan mudah membusuk. Dalam keadaan normal, telur-telur akan menetas dalam waktu tiga hari. Setelah semua telur menetas, kakaban bisa diangkat dan dapat dipergunakan untuk proses pemijahan lainnya. Anak koi yang baru lahir masih membawa kuning telur sebagai persediaan makanan. Lima hari kemudian, kuning telur tersebut habis dan burayak koi mulai membutuhkan pakan alami berupa udang renik artemia atau kutu air yang sudah dikultur. Pakan alami yang diambil dari alam harus dibersihkan dahulu supaya koi tidak tercemar bakteri. Setelah berumur satu minggu, burayak sudah bisa dipindahkan ke dalam kolam pembesaran. Sebelum burayak dimasukkan, sebaiknya kolam pembesaran sudah diisi oleh pakan alami berupa kutu air. Selain kutu air, pakan alternatif yang bisa diberikan adalah kuning telur yang direbus, tepung udang, atau susu bubuk. Jangan lupa kolam harus selalu dibersihkan agar koi tetap sehat.

Cara Menetaskan Ikan Koi


2. Merawat Anak Koi
a. Pendederan I
Pendederan I adalah pemeliharaan lanjutan dari koi yang berumur 10 hari. Biasanya dilakukan di kolam tembok berukuran 5 x 5 x 0.5 m atau 5 x 10 x 0,5 m. Untuk menghindari resiko kematian koi, sebaiknya tidak menggunakan air dari saluran langsung, tetapi air yang sehat atau bersih dan diberi aerasi.
Sebelum pemeliharaan berlangsung, kolam dipersiapkan dulu, yakni dengan merendam pupuk kandang (kotoran ayam petelur sebanyak 2 - 4 kg / m3 air. Pupuk kandang dibungkus dengan kain kasa dan diletakan disudut-sudut kolam. Di samping itu, juga ditebarkan garam dapur sebanyak 10 gram / m3 air. Perendaman berlangsung selama 5-7 hari.
Setelah kolam dan perlengkapannya dipersiapkan, benih koi ditebarkan dengan hati-hati. Sebaiknya dilakukan aklimatisasi dengan seksama. Caranya, semua tindakan yang termuat dalam paragraf ini dilakukan dengan benar dan hati-hati, agar adaptasi ikan berjalan sebagaimana mestinya. Selama 3-5 hari, koi memanfaatkan pakan alami. Setelah itu, diberi pakan berbentuk tepung. Pemeliharaan benih koi selama 15 -25 hari dengan padat tebar 150 200 ekor / m3.

b. Pendederan II
Sama halnya dengan pendederan I, pendederan II juga dilakukan di kolam tembok. Bisa juga dilakukan di kolam tanah.

Persiapan di kolam tembok sama dengan pendederan I. Selanjutnya, sudah bisa menggunakan pakan buatan yang berbentuk butiran.

Persiapan kolam tanah dapat dilakukan dengan cara memberi kapur 25 - 50 gram / m3, pupuk kandang 150 - 250 gram / m3, dan pupuk daun 300 gram / m3. Kolam tanah diairi atau direndam selama 5-7 hari. Selanjutnya koi ditebarkan jika dibandingkan dengan kolam tembok, penggunaan kolam tanah biasanya mempercepat koi tumbuh, tetapi mortalitas atau kematian akan tinggi dan warnanya akan pudar.
Pemeliharaan pendederan II berlangsung selama 20 - 30 hari. Padat tebarnya 50-100 ekor/m3. Biasanya, pada waktu panen sudah bisa dipilih anakan berdasarkan warna dan ukurannya.

c. Pendederan III
Persiapan yang dilakukan sama dengan pendederan I dan II. Perbedaannya hanya pada padat tebarnya. Padat tebar pada pendederan III maksimum 50 ekor/ m3 dengan kondisi air dan pakan yang memadai, karena pada tahap ini proses pembentukan kualitas koi yang baik berlangsung. Pemeliharaan berlangsung selama 20 - 30 hari. Selanjutnya baru dilakukan pemilihan koi berdasarkan ukuran dan warnanya.

3. Menyeleksi Benih Koi Secara Benar
Penyeleksian benih bisa dilakukan setelah koi berumur 2-3 bulan. Kriteria ini dimaksudkan agar koi bisa dikelompokkan berdasarkan ukuran tubuhnya. Koi yang bertubuh bongsor dicampurkan dengan yang bertubuh bongsor, dan yang bertubuh kecil juga dicampur dengan yang bertubuh kecil. Pada tahap penyeleksian ini sekaligus dapat dipilih calon induk yang berkualitas. Seleksi benih dapat dilakukan hingga beberapa kali agar diperoleh hasil yang memuaskan. Seleksi paling akhir adalah menentukan pola warna dan kualitas koi secara secara keseluruhan. Diperlukan cukup pengalaman dan kejelian untuk memilih koi yang berkualitas. Berdasarkan pengalaman, anak koi yang baik memiliki tubuh tidak cacat serta pola warna yang tegas dan cemerlang.

Memilih benih ikan koi

Persiapan untuk Proses Pemijahan Ikan Koi

By Herlambang Bagus Budi Wibawa | At 7:30 AM | Label : | 0 Comments
Sebelum proses pemijahan induk dilakukan, hal-hal pokok yang perlu diperhatikan agar dapat diperoleh hasil yang baik, adalah :
  1. kolam pemijahan dan kolam pemeliharaan harus terpisah;
  2. kolam harus mempunyai pintu ke luar dan pintu masuk air secara terpisah;
  3. pada pintu masuk air dibuat penyaring untuk mencegah hama masuk ke kolam;
  4. pada pintu ke luar air dibuat juga saringan, untuk mencegah telur tidak hanyut;
  5. seluruh dinding kolam diplester atau dilapisi vinil;
  6. kolam harus kena sinar matahari;
  7. luas kolam antara 3 - 6 m dengan kedalaman 0,5 m;
  8. jauh dari jangkauan anak-anak;
  9. suasana tenang / tidak berisik;
  10. di dalam kolam disediakan kabakan dari ijuk ukuran 40 cm x 1 m sebagai media penempel telur yang diletakan pada bilah-bilah bambu agar tidak mengapung;
  11. usahakan sirkulasi air terus mengalir, untuk mempercepat koi kawin.
Kolam penetasan dan pembesaran benih bisa disatukan dengan kolam pemijahan. Namun, kedua kolam itu sebaiknya dibuat terpisah. Kolam penetasan dapat berbentuk persegi panjang atau bulat dengan ukuran sekitar 3 m2. Begitu juga dengan kolam pembesaran benih, tetapi akan lebih baik jika ukuran kolam ini dibuat lebih besar. Satu hal lagi, untuk menyediakan stok pakan bagi ikan perlu dibuatkan kolam untuk pakan alami, ukurannya antara 6 - 10 m2 dengan ketebalan dinding kolam sekitar 30 cm.

Persiapan untuk Proses Pemijahan Ikan Koi


A. MENYELEKSI INDUK
Di kalangan penggemar koi ada pepatah, memelihara koi dimulai dengan Kohaku dan diakhiri dengan Kohaku pula.

Pertama kali memelihara koi, orang akan memilih Kohaku, kemudian selera bergeser ke koi satu warna dan tiga warna, seperti Ogon dan Taisho sanke. Setelah itu, selera akan kembali ke Kohaku dengan selera kualitas lebih tinggi. Pepatah ini secara tidak langsung menobatkan Kohaku sebagai prototipe koi.
Beberapa kriteria yang harus dipenuhi, baik untuk induk jantan maupun induk betina agar dapat menghasilkan telur yang banyak dan dapat melakukan pembuahan yang sempurna, antara lain :
  • induk jantan sudah memiliki banyak sperma (berumur lebih dua tahun);
  • induk betina sudah banyak memiliki telur yang matang (berumur lebih dari tiga tahun);
  • kedua induk dalam kondisi sehat, tidak cacat, kondisi sirip seimbang, tidak loyo;
  • perbandingan jumlah induk adalah satu ekor induk betina dengan dua atau tiga ekor induk jantan.

Untuk mengetahui ciri koi induk yang berkualitas, perlu memerhatikan faktor berikut ini:
1. Bentuk Tubuh
  • Ideal atau proporsional dengan perbandingan tinggi dan panjang 1 : 2 atau 1 : 3.
  • Garis punggungnya yang tidak melengkung (lurus).
  • Gerakan renang seimbang dan tenang yang dipengaruhi oleh posisi sirip yang simetris berpasangan.
  • Memiliki sirip dada dan perut yang berukuran sama besar.
  • Untuk bentuk kepala, mulut, mata dan insang proporsional dan serasi.
  • Hidung tidak terlalu ke luar atau tampak tertimbun daging.
  • Pangkal ekor hendaknya berukuran tebal, agar telur tersebar secara merata.

2. Warna dan Pola Warna
  • Batas antar pola warna harus jelas dan kontras.
  • Tidak terjadi gradasi atau bayangan warna.

3. Kesehatan
  • Gerakan gesit dan seimbang. Di samping itu, tidak menyendiri di dasar kolam atau muncul lama di permukaan. Koi yang sering menyendiri di dasar kolam merupakan indikasi bahwa koi tersebut sedang sakit.
  • Nafas teratur. Gerakan insang yang terlalu cepat menandakan koi sukar untuk bernafas.
  • Sirip tegak atau tidak terkulai.
  • Tidak cacat, sakit, atau buta.

Secara umum memilih induk koi dapat digunakan kriteria sebagai berikut:
  • Anggota badannya utuh dan tidak terluka yang mudah dihinggapi parasit.
  • Tubuh simetris dan jika dilihat dari atas nampak garis punggung yang lurus dan saat meliuk, bagian atas dan bawah tubuh melengkung dengan wajar dan serempak.
  • Bentuk dan besar dari kepala sesuai dengan bagian tubuh yang lain.
  • Warnanya jelas, terang, cemerlang dan juga memikat, tidak ada gradasi (misalnya kemerahan atau kecoklatan), serta setiap warna terpisah secara nyata dan tidak boleh bercampur.
  • Tidak ada bintik-bintik. Tips buat sobat, sebaiknya untuk pemilihan koi dilakukan di bawah sinar matahari, bukan sinar lampu.
  • Tingkat kesuburannya tinggi. Biasanya dijumpai pada koi jantan yang berumur enam bulan dan betina telah berumur kurang lebih 1,5 tahun.
  • Telah siap kawin yang ditandai dengan keluarnya cairan  putih kental pada koi jantan ketika bagian kelaminnya dipijit dan di daerah kelamin koi betina tampak kemerahan.
  • Sebaiknya dipilih induk dari jenis koi impor. Biasanya, jika dipilih koi lokal warnanya cenderung bergradasi dan tidak cemerlang atau buram.

B. MEMBEDAKAN KOI BETINA DENGAN KOI JANTAN
Secara umum, tubuh koi betina lebih besar dibandingkan dengan tubuh koi jantan. Jika dilihat dari atas, bagian perut induk betina tampak membuncit ke samping. Sementara itu, perut induk jantan tampak lebih langsing. Pada induk jantan, di bagian sirip dadanya tampak bintik-bintik putih mirip garam. Bintik ini menandakan bahwa induk jantan sudah matang kelamin.
Posting Lama ►
 

Copyright © 2013. Tutorial Cara Budidaya - All Rights Reserved KEBIJAKAN PRIVASI